Jumat, 14 Desember 2007

Ketika Anak Anda Beranjak Remaja

Karakteristik Remaja

Menurut Papalia (2004), Remaja adalah transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang diikuti oleh perubahan fisik, kognitif dan psikososial. Menurut Erikson, tugas utama dari remaja adalah mencari jalan keluar dari krisis identitas. Hal ini ditujukan agar ia bisa mempunyai karakteristik yang unik (menjadi seseorang) atau mempunyai peranan yang berarti dalam masyarakat.

Remaja menunjukkan kebingungan identitasnya dengan meregresi tingkat perkembangan aktualnya menjadi kekanak-kanakan untuk menghindari konflik atau masalah. Identitas remaja terbentuk pada saat ia berhasil memecahkan masalah dalam hidupnya, yaitu pilihan pekerjaan, menentukan nilai mana yang harus diyakini atau ditinggalkan, pemuasan identitas seksual.

Ada 3 karakteristik remaja tentang orang-orang, hubungan dan situasi, yaitu:

1. Kesadaran tentang diskrepansi antara kenyataan dan kemungkinan

2. Konsep disposisional tentang diri sendiri dan orang lain

3. Pengambilan peran dan pemikiran perspektifistik

IV. a Teori Identitas Diri dari Marcia (1966,1980)

Menurut Erikson, identitas adalah konsep yang koheren tentang diri sendiri terdiri dari tujuan, nilai-nilai dan keyakinan pada seseorang yang komitmennya sudah solid. Dalam teori ini disebutkan bahwa ada empat status identitas yang dapat dialami oleh remaja yang ada hubungannya dengan aspek kepribadiannya, yaitu :

1. Identity Achievement

2. Foreclosure

3. Moratorium

4. Identity Diffusion.

Keempat kategori ini dibedakan atas ada atau tidaknya krisis dan komitmen pada remaja tersebut. Kedua hal tersebut dipandang oleh Erikson sebagai hal yang penting dalam pembentukan identitas.

Yang dimaksud krisis adalah periode ketika seseorang mengalami kebingungan saat harus mengambil keputusan. Sedangkan komitmen adalah penetapan modalitas diri tentang pekerjaan atau system keyakinan (ideology) seseorang. Erikson menemukan hubungan antara status identitas dengan beberapa karakteristik seperti kecemasan, self esteem, moral reasoning dan pola tingkah laku. Disusun berdasarkan teori Marcia, peneliti lain telah mengidentifikasi kepribadian yang lain dan variabel-variabel keluarga yang berhubungan dengan status identitas.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai keempat status identitas yang telah disebutkan di atas :

1. Identity Achievement

Status identitas digambarkan oleh Marcia yang ditandai oleh komitmen untuk mengambil keputusan setelah mengalami krisis.

2. Foreclosure

Status identitas yang digambarkan oleh Marcia, yaitu ketika seseorang tidak melewati suatu krisis, tapi mempunyai komitmen yang keputusan diambil orang lain untuk hidupnya.

3. Moratorium

Status identitas yang digambarkan Marcia, yaitu ketika seseorang mempertimbangkan alternatif-alternatif (menunjukkan ia berada dalam satu krisis) dan sepertinya ia tidak menemukan komitmen apapun.

4. Identity Difussion

Status identitas yang ditandai ketidakhadiran komitmen dan kurangnya keseriusan dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif dalam hidup (tidak melalui suatu krisis).

Menurut teori Elkind, ketidakmatangan dari pola pikir remaja ditandai dengan:

1. idealisme dan criticalness

Remaja biasanya memimpikan dunia yang ideal. Mereka terlalu percaya bahwa mereka mengetahui bagaimana cara mengatur dunianya dengan lebih baik daripada orang dewasa, dan mereka sering membuat kesalahan dengan orangtuanya.

2. argumentativeness

Remaja selalu mencari kesempatan untuk mencoba dan mempertunjukkan kemampuan penalaran mereka. Mereka memilki banyak alasan (berargumen) untuk menyanggah.

3. indecisiveness

Remaja tidak dapat mengambil keputusan yang pasti diantara berbagai alternatif yang ada karena belum adanya pengalaman sehingga mereka tidak mempunyai strategi yang efektif untuk memilih.

4. apparent hypocrisy

5. self-consciousness

Remaja sudah dapat berpikir tentang isi apa yang dipikirkan oleh diri mereka sendiri maupun orang lain. Tetapi, remaja seringkali berasumsi bahwa orang lain tengah berpikir hal yang sama dengan mereka, yaitu memikirkan tentang diri mereka. Seorang remaja perempuan akan merasa malu ketika dia memakai pakaian yang salah dalam suatu pesta, dia akan berpikir bahwa orang lain akan melihat ke arahnya. Elkind menyebut fenomena ini sebagai imaginary audience.

6. specialness dan invulnerability

Menurut Elkind, remaja menganggap dirinya unik dan menganggap bahwa sesuatu yang buruk yang menimpa orang lain tidak akan terjadi padanya. Hal ini disebut juga dengan personal fable

Tugas perkembangan usia remaja
Remaja lebih banyak menghabiskan waktu dengan temannya dibandingkan dengan keluarganya. Walaupun begitu, banyak nilai dasar yang dianut oleh remaja lebih dekat kearah orangtuanya (Offer&Church, 1991 dalam Papalia, 2003). Banyak waktu yang dimiliki oleh remaja digunakan untuk ngobrol dan jalan-jalan dengan teman-temannya dan lebih banyak lagi dengan teman lawan jenisnya (Larson&Verma, 1999 dalam Papalia, 2003). Temuan lain menyatakan bahwa remaja SMA menghabiskan banyak waktu luangnya dengan teman-teman yang membuat mereka lebih nyaman dan dapat mengidentifikasikan diri denganny mereka (Larson&Richards, 1998 dalam papalia, 2003).

Remaja dan Saudara Kandungnya

Ketika remaja mulai terpisah dari keluarganya dan menghabiskan banyak waktu dengan teman-temannya, mereka memiliki waktu dan kebutuhan akan kedekatan emosional yang kurang terhadap saudara kandungnya. Remaja menjadi tidak begitu dekat dengan saudara kandungnya dibandingkan dengan orangtua dan teman-temannya, lebih tidak dapat dipengaruhi dan membuat jarak yang jauh dengan saudara kandungnya sepanjang usia remajanya (Laursen, 1996 dalam Papalia, 2003). Pada penelitian lain ditemukan bahwa remaja masih menunjukkan kedekatan, afeksi dan respek pada saudara kandungnya ( Raffaelli&Larson, 1987 dalam Papalia, 2003) namun intensitas hubungan antar keduanya menjadi lebih kecil (Buhrmester&Furman, 1990 dalam Papalia, 2003). Saudara kandung yang labih muda dan lebih tua memiliki perasaan yang cenderung berbeda terhadap perubahan hubungan yang terjadi antar keduanya. Ketika saudara yang lebih muda atau adik mulai tumbuh dewasa, saudara yang lebih tua atau kakak mulai menyerah untuk menerapkan kekuasaan dsan statusnya sedangkan di lain pihak, adik melihat kakaknya dengan lebih baik dan mencoba lebih berkembang dengan mengidentifiksikan dirinya pada kakaknya (Buhrmester&Furman, 1990 dalam Papalia, 2003).

II.4 Konsep diri sosial

Konsep diri adalah identitas diri seseorang, sebagai skema dasar yang mencakup koleksi yang terorganisasi dari beliefs dan attitude tentang diri seseorang (Baron&Byrne, 1994). Pertanyaan-pertanyaan seperti “siapa kamu?” dan “siapa saya?” sudah banyak digunakan oleh psikolog untuk melihat konten spesifik dari konsep diri individu. (Ziller, 1990 dalam Baron&Byrne, 1994). Konsep diri sosial adalah identitas kolektif yang mencakup hubungan interpersonal ditambah dengan beberapa aspek identitas yang berasal dari keanggotaan kelompok yang besar berdasarkan ras, etnis, dan budaya (Baron&Byrne, 1994). Dalam hal konsep diri sosial, masing-masing orang terbentuk dari beberapa komponen yang berisi skema untuk aspek-aspek spesifik seseorang, salah satunya interaksi sosial. Social self terdiri dari 2 komponen yaitu: yang berhubungan dengan hubungan interpersonal dan yang berasal dari kelompok sosial yang lebih besar seperti ras, etnik, dan budaya. Untuk seseorang yang masih muda, konsep diri sosialnya dapat lebih jauh dibagi menjadi kategori-kategori yang spesifik seperti interaksi sosial di sekolah dan rumah. Lebih spesifik lagi interaksi di rumah bisa berupa interaksi dengan orangtua dan saudara kandungnya (Byrne&Shavelson, 1996 dalam Baron&Byrne, 1994).Konsep diri berubah-ubah seiring dengan bertambahnya usia, tetapi juga dipengaruhi oleh informasi baru, perubahan pada lingkungan dan status pekerjaan, dan juga interaksi dengan orang lain.


0 komentar: