Gender
Gender adalah segala sesuatu yang diasosiasikan dengan jenis kelamin seseorang, termasuk juga peran, tingkah laku, preferensi, dan atribut lainnya yang menerangkan kelaki-lakian atau kewanitaan di budaya tertentu (Baron&Byrne, 1979). Pada beberapa kepentingan, norma sosial mengacu pada norma tradisional dan perilaku yang sesuai dengan jenis kelaminnya diharapkan oleh masyarakat, dimana laki-laki lebih diharapkan lebih kuat, dominant, asertif, sementara perempuan seharusnya mempunyai sifat merawat, sensitif, dan ekspresif. Jika situasinya sesuai dan nyaman, maka akan sangat memuaskan untuk mengikuti dan bertingkah laku sesuai norma sosial tersebut, namun jika tidak sesuai, maka tingkah laku dapat disesuaikan dengan kondisi (Wood et al., 1997 dalam Baron&Byrne, 1979).
Androgynous
Kebanyakan dari kita melihat maskulinitas dan femininitas sebagai dua hal yang berada di dua ujung kutub dari satu kontinum (Storm, 1980 dalam Spencer&Jeffrey, 1993 ). Oleh karena itu kita berasumsi bahwa semakin maskulin seseorang, maka semakin kurang feminin ia dan begitu pula kebalikannya. Sehingga, seorang pria yang memiliki sifat stereotipikal feminin seperti pengasuhan, tenderness, dan emosional sering dilihat sebagai kurang maskulin dibanding pria lain. Perempuan yang bersaing dengan laki-laki dalam dunia bisnis diterima bukan hanya lebih maskulin tapi juga kurang feminin dibanding wanita lain.
Beberapa ilmuwan behavioral berargumen bahwa maskulinitas dan femininitas sebenarnya membandingkan dua dimensi kepribadian yang berdiri sendiri (Bem, 1975; Spence at al.,1975; Helmreich et al, 1979 dalam Spencer&Jeffrey, 1993). Orang yang memiliki maskulinitas tinggi, baik laki-laki maupun wanita dapat pula memiliki sifat feminin dan kebalikannya. Orang yang mempertunjukkan keasertifan dan keterampilan instrumental yang bersifat maskulin berjalan beriringan dengan pengasuhan dan kerjasama yang bersifat feminin yang cocok dengan maskulinitas dan femininitas peran gender. Mereka ini disebut telah menunjukkan psychological androgyny. Orang yang tinggi dalam assertiveness dan keterampilan instrumental hanya cocok dengan stereotipe maskulin. Orang yang tinggi dalam sifat seperti pengasuhan dan kerjasama cocok dengan stereotipe feminin. Orang yang rendah di pola stereotipe maskulin dan feminin dilihat sebagai “undifferentiated” merujuk pada stereotipe peran gender. Orang yang psychologically androgynous mampu untuk memanggil range yang lebih luas dari sifat maskulin dan feminin untuk menemukan tuntutan dari berbagai macam situasi dan untuk mengekspresikan hasrat dan bakat mereka.
Terdapat pula bukti bahwa sifat feminin, seperti pengasuhan dan sensitivitas, muncul untuk memprediksi keberhasilan dalam hubungan intim-dengan laki-laki sebaik dengan perempuan. Laki-laki androgynous lebih mungkin untuk mengekspresikan perasaan cintanya kepada pasangannya dan lebih dapat menerima kesalahan pasangannya daripada tipe maskulin (Coleman & Ganong, 1985 dalam Spencer&Jeffrey, 1993 ).
Remaja maskulin dan androgynous dari kedua gender cenderung untuk lebih popular dan memiliki harga diri yang tinggi dibanding remaja lain (Lamke, 1982 dalam Spencer&Jeffrey, 1993) . Hal ini tidak mengejutkan, merupakan hal yang biasa bahwa remaja laki-laki lebih sejahtera apabila memiliki stereotipe sifat maskulin. Namun yang lebih mengejutkan, adalah para remaja perempuan juga lebih sejahtera ketika mereka mempertunjukkan stereotip sifat maskulin, seperti assertiveness dan kemandirian. Terlihat bahwa perempuan muda tidak beresiko apabila orang lain mempertanyakan femininitas mereka apabila mereka mempertunjukkan sifat maskulin, menyediakan lebih banyak bukti bahwa konstelasi dari sifat yang kita sebut maskulinitas dan femininitas merupakan kelompok yang berdiri sendiri.
Laki-laki dan perempuan yang psychologically androgynous lebih merasa nyaman dengan seksualitas mereka daripada laki-laki maskulin dan wanita feminin (Wolfish & Mayerson, 1980 dalam Spencer&Jeffrey, 1993).
Dari berbagai macam sudut pandang, kita telah memeriksa bahwa laki-laki termasuk dalam kelompok standardisasi menunjukkan dengan jelas minat yang berbeda dalam mengeksploitasi dan berpetualang, di outdoor, dan secara fisik memiliki pekerjaan yang sibuk, dalam bidang perlengkapan dan mesin, ilmu sains, fenomena fisik, dan penemuan. Di pihak lain perempuan dalam kelompok kita telah menunjukkan dengan jelas minat yang berbeda pada pekerjaan domestik dan pada objek dan pekerjaan estetik, mereka secara berbeda memilih pekerjaan yang menetap dan pekerjaan indoor, pekerjaan tersebut lebih ministrative secara langsung, khususnya bagi orang muda, ketidakberdayaan, distress yang muncul.
Laki-laki secara langsung maupun tak langsung memuat self-assertion yang lebih besar dan juga agresivitas : mereka lebih mengekspresikan kepayahan dan ketidaktakutan, lebih kasar dalam perbuatan, bahasa dan perasaan. Perempuan mengekspresikan diri sendiri lebih mudah terharu dan simpatik, lebih malu-malu, lebih pemilih dan sensitif secara estetik, secara umum lebih emosional, lebih kuat memegang moral, lebih lemah dalam mengendalikan emosi dan lemah dalam hal fisik.
Orang-orang maskulin dan androgynous dari kedua gender cenderung untuk memiliki harga diri yang lebih tinggi dan secara umum lebih baik dalam menyesuaikan secara psikologis daripada orang yang feminin atau undifferentiated. Contohnya penelitian yang menyatakan bahwa individu laki-laki maupun perempuan yang androgini dikatakan lebih baik dibandingkan individu yang menganut tipe gender pada umumnya (Major, Carnevale,&Deaux, 1981 dalam Baron&Byrne 1979), lebih kreatif dan optimis (Norlander, Erixon,&Archer, 2000 dalam Baron&Byrne 1979), lebih ,mudah menyesuaikan diri (Williams&D’Alessandro, 1994 dalam Baron&Byrne 1979), lebih baik dalam beradaptasi dengan permintaan dari situasi yang berbeda-beda (Prager&Bailey, 1985 Baron&Byrne 1979), lebih fleksibel dalam menangani stress (McCall&Struthers, 1994 Baron&Byrne 1979), lebih baik dalam mengurangi stress orang lain (Hirokawa et al, 2001 dalam Baron&Byrne 1979), lebih tidak rawan terkena eating disorder (Thornton, Leo,&Alberg, 1991 dalam Baron&Byrne 1979), lebih nyaman dengan seksualitasnya (Garcia, 1982 dalam Baron&Byrne 1979) dan lebih puas dengan hubungan interpersonalnya (Rosenzweig&Daley, 1989 dalam Baron&Byrne 1979) dn dengan kehidupannya secara umum (Dean-Church&Gilroy, 1993 dalam Baron&Byrne 1979).
Selanjutnya hal ini muncul bahwa keuntungan tersebut lebih berkaitan secara kuat dengan kehadiran sifat maskulin daripada kombinasi antara sifat maskulin dan feminin (Bassoff & Glass, 1982; Whitley, 1983 dalam Spencer&Jeffrey, 1993). Sehingga, sifat maskulin seperti assertiveness dan independence dapat dikaitkan dengan psychological well-being, walau dengan atau tanpa adanya ia dikombiansikan dengan sifat feminin seperti kehangatan, pengasuhan dan kerjasama. Kehadiran dari kepribadian yang maskulin hadir pada satu sampel dari mahasiswa yang lebih kuat diasosiasikan dengan kemampuan beradaptasi dan kecakapan dalam berbagai hal daripada androgyny (Lee & Scheuree, 1983 dalam Spencer&Jeffrey, 1993). Di lain pihak, terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa mahasiswa androgynous lebih mungkin untuk memiliki sense of personal identity dan intimacy ketimbang mahasiswa feminin, undifferentiated dan maskulin (Schiedel & Marcia, 1985 dalam Spencer&Jeffrey, 1993). Sehingga mereka lebih mungkin dalam mengembangkan sebuah sense yang kuat mengenai siapa diri mereka dan apa yang mereka percayai (identitas)., dan mereka memiliki kapasitas yang lebih besar untuk membentuk dan menjaga keintiman, hubungan berbagi.
Mengapa peran gender tradisional masih kuat pada abad 21?
Seiring semakin tuanya usia dunia ini, cerita panjang mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih superior dibanding perempuan sudah terbentuk. Contohnya pada tradisi Judeo-Christian dimana laki-laki didisain sebagai pemilik dari keluarganya (Wolf, 1992 dalam Baron&Byrne 1979). Selain itu pada konteks nonreligi, terdapat buku anak-anak yang menghadirkan tokoh laki-laki dan perempuan dari berbagai umur sesuai dengan stereotip gender tradisionalnya, contohnya pada tayangan sesame street. Sementara pada masa sekarang, pembedaan gender terus berlanjut pada permainan-permainan komputer dan software lainnya, seperti Barbie fashion design untuk anak perempuan. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan bertahannya stereotip gender dan superioritas laki-laki dan mempengaruhi tingkah laku serta harapan pada laki-laki dan perempuan.
Indikasi bahwa stereotip gender mulai luntur adalah penelitian bahwa mahasiswa sekarang ini sudah sering tidak mempedulikan stereotip gender dan tidak memperhatikan perbedaan gender (Swim, 1994 dalam Baron&Byrne 1979). Contohnya pada tahun 1931 mahasiswa Amerika lebih asertif dalam hal berkencan dibanding perempuan, sedangkan pada tahun 2001 sudah tidak ada perbedaan. Contoh lainnya adalah pada tahun 1970 sudah mulai muncul buku-buku yang tidak lagi membedakan gender, seperti buku ‘He Bear, She Bear (1974) yang mengandung pesan : “There’s nothing that we cannot try. We can do all this things you see, wether we are he or she”.
Teori Gender Expectations
Gender expectations atau pengharapan akan jender membawa kita untuk lebih memilih laki-laki untuk posisi otoritas dan meletakkan wanita pada peran sub-ordinat atau hanya sebagai pelengkap. Di dalam keluarga, kelompok dan organisasi sosial, pria mempunyai status yang lebih tinggi daripada wanita (Betz & Fitzgerald, 1987; England, 1979; Kanter, 1977; Lovdal, 1989; Needleman & Nelson, 1988; Scanzoni, 1982 dalam Beal & Sternberg, 1999). Peran status tinggi memerlukan dominansi, kecerdasan, rasionalitas, objektifitas, inisiatif, kepemimpinan, dan penetapan keputusan (Secord, 1982 dalam Beal & Sternberg, 1999). Perlu dicatat bahwa karakteristik tersebut mirip dengan stereotipe maskulin, karena hanya laki-laki yang terlihat memiliki peran autoritas , mereka butuh memperlihatkan tingkah laku mereka agar dikarakterkan maskulin (Beal & Sternberg, 1999).
Sebaliknya, peran pelengkap memberikan kesempatan yang kecil untuk memiliki tingkah laku tersebut di atas. Mereka dianjurkan untuk bersifat tergantung (superior mengatur penghasilan dan pekerjaan mereka, dan pelengkap tersebut harus menunggu perintah pihak superior), menyesuaikan dan memiliki rasa hormat terhadap keputusan pihak superior, sensitif terhadap kebutuhan pihak superior, serta merawat pihak superior tersebut (Secord, 1982; Snodgrass, 1985, 1992 dalam Beal et. al., 1999). Pada zaman dahulu, semua wanita dilihat dalam posisi sub-ordinat atau pelengkap. Lalu, tingkah laku yang dibutuhkan untuk peran tersebut dikarakteristikan sebagai feminin (cf. Rothbart, Fulero, Jensen, Howard, & Birrell, 1978; both Unger, 1976,1978, and Henley, 1977 dalam Beal et. al., 1999). Sebagai akibat dari stereotipe-nya dan peran tingkah laku mereka, wanita lalu dilihat secara alami hanya cocok untuk posisi sub-ordinat. Dan seperti juga wanita, karena hanya laki-laki yang diharapkan untuk peran status yang tinggi, sikap mereka disebut sebagai maskulin, dan hanya laki-laki yang diharapkan untuk cocok dalam posisi otoritas.
Pengukuran mengenai orientasi nilai menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai berdasarkan perbedaan kohort. Misalnya Laki-laki dan perempuan yang berusia sekitar 20 sampai 30 tahun memiliki orientasi yang kurang pada keluarga dan lebih berorientasi pada karir dan menjadi lebih berorientasi pada keluarga di usia 30 sampai 40. Perbedaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh keadaan sosiokultural dan budaya.
Menurut Helson (1993 dalam Papalia, 2003) menyatakan bahwa menurut pandangan Jung, kualitas tertinggi dari wanita pada usia 50an diasosiasikan dengan otonomi dan keterlibatan dalam hubungan intim (intimate relationship). Menurut Gutmann, peran gender tradisional menekankan pada keamanan dan kesejahteraan perkembangan anak, dimana ibu berperan sebagai pengasuh dan ayah penyedia sumber daya. Ketika masa pengasuhan anak sudah berlalu, yang berlaku bukan lagi sekedar menyeimbangkan peran laki-laki dan perempuan, namun sudah mengarah pada pembalikan peran, atau yang disebut juga dengan gender crossover.
Sex-role ideology
Kepercayaan normatif atau preskriptif mengenai sifat hubungan peran yang tepat antara perempuan dan laki-laki disebut sex-role ideology. Dalam masyarakat tradisional, laki-laki biasanya dipandang lebih dominan dan/atau lebih penting dibandingkan perempuan, sedangkan di masyarakat modern, seseorang melihat pergerakan lebih menuju pada hubungan yang lebih egaliter. Mereka mengharapkan variasi menyeberangi negara dalam kepercayan yang umum maupun tipikal mengenai ketepatan variasi pelaksanaan sosial yang melibatkan perempuan dan laki-laki, seperti tanggung jawab dalam mengurus anak atau bekerja di luar rumah, dievaluasi sepanjang skala modern/tradisional. Tambahannya, sepertinya beralasan untuk mengharapkan bahwa terdapat variasi terukur pada sex-role ideology diantara banyak individu pada negara tertentu dan variasi ini terkait secara sistematik dengan self-concept dari individu. Sebuah hipotesis prori yang beralasan bahwa semakin maskulin laki-laki dan semakin maskulin perempuan akan memegang kepercayaan secara relatif akan peran sex yang bersifat tradisional, sedangkan orang yang lebih androgynous, dari kedua sex, secara relatif lebih egaliter.
Self Concept pada Laki-laki dan Perempuan
Berdasarkan stereotip seks ditinjau dari kebudayaan, dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan secara psikologis berbeda dalam beberapa dimensi dan model yang disediakan oleh stereotip tersebut akan mendorong laki-laki dan perempuan untuk menggambarkan diri mereka secara berbeda. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak belajar tentang stereotip seks sejak usia awal. Kebanyakan anak usia 5 tahun telah mempelajari beberapa komponen utama dari stereotip seks dan semakin meningkat selama usia awal sekolah hingga usia 11 tahun. Anak tumbuh dalam masyarakat yang percaya bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara psikologis dan hal ini akan mendorong anak untuk mempersepsikan diri mereka dengan cara yang kongruen dengan model gender mereka.
Kebanyakan masyarakat memberikan sosialisasi yang berbeda, anak laki-laki diperlakukan secara berbeda dan didorong untuk terlibat dalam jenis kegiatan tertentu sedangkan anak perempuan didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berbeda dengan anak laki-laki. Keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan itu dan asosiasi terhadap reward memberikan alasan lain bagi perempuan untuk mempersepsikan dirinya berbeda dengan laki-laki dan hal ini menimbulkan harapan yang berbeda terhadap ideal selves laki-laki dan perempuan..
Ada banyak studi yang mempertanyakan tentang perbedaan self concept antara laki-laki dan perempuan dan diantaranya ditemukan bahwa perbedaan self concept di dalam kedua kelompok gender yaitu antara perempuan dan perempuan atau laki-laki dengan laki biasanya lebih besar daripada rata-rata perbedaan antara kedua kelompok gender yaitu antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan kepribadian antar perempuan dan antar laki-laki lebih besar daripada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Psychological Androginy
Isu penting dalam psikologi androgin adalah pertanyaan tentang perbedaan self esteem individu dalam skor androgin. Hasil penelitian menemukan bahwa jika dihadapkan dengan atribut positf dari maskulin atau feminin, orang yang mempunyai self esteem yang tinggi cenderung menyeleksi sejumlah besar atribut positif yang diasosiasikan dengan laki-laki maupun atribut yang diasosiasikan dengan perempuan dan inilah yang diklasifikasikan sebagai androgynous sedangkan orang dengan self esteem yang rendah cenderung hanya memilih sedikit dari atribut positif maskulin atau feminin sehingga digolongkan sebagai undifferentiated. Penemuan lain membuktikan bahwa individu androgynous mempunyai self esteem yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu undifferentiated atau sex-differentiated khususnya individu dengan tipe feminin (Bem, 1997; Kelly & Worell, 1977; Spence et al,1975). Akan tetapi, ketika dihadapkan dengan atribut laki-laki dan perempaun yang keduanya mempunyai nilai positif dan negatif, self esteem individu androgynous akan menjadi berkurang.









1 komentar:
terimakasih mengenai ulasan gender dan peran dan sejumlah penelitian yang mendasarinya. Jika diperkenankan, saya masih ada pertanyaan terkait penelitian pada skripsi saya yang memperoleh indikasi bahwa selepas lulus nanti, mahasiswa laki-laki cenderung lebih termotivasi pada pekerjaan sedangkan mahasiswa perempuan pada pendidikannya (yaitu melanjutkan ke S2). Tapi saya masih belum memperoleh jawaban mengapa hal ini bia terjadi. Mungkinkah harapan budaya bahwa laki-laki akan menjadi tulang punggung keluarga sedang perempuan hanya akan menjadi pengurus RT dapat menjadi latar belakang hal ini terjadi? Jika "ya", lantas mengapa perempuan malah beralih untuk melanjutkan pendidikannya, bukankah sebagai pengurus RT pendidikan yang tinggi tsb (S2) hampir tidak ada gunanya? Semoga penulis atau siapapun dapat membantu saya atau kontak saya di achmad_aidil2002@yahoo.com. Terimakasih.
Poskan Komentar